Melaut .. Nelayan Ketapang dan Pantai Tanjung Kait

Date : 17 May 2014

Perjalanan ini merupakan perjalanan yang tidak pernah saya lupakan, perjalan dimana bagian terpenting dalam hidup saya telah saya alami, bagian dimana cita cita saya sejak duduk di waktu SMA yang benar benar saya tunggu. Salah satu bagian dari pengalaman di cerita dalam nover termasyhur karangan anak melayu belitong, Andrea Hirata, saya terpedaya oleh inspirasinya.

Oke kita lanjut saja ceritanya ...

pagi pagi sekali saya terbangun dari tidur, selesai shalat subuh saya langsung siap siap berkemas, untuk memulai perjalanan hari itu. Sembari berkemas yang ada dipikiranku sudah terbayang keindahan pantai, perahu dan biota laut, semuanya membuat pikiranku melayang tidak karuan. peralatan yang saya bawa cukup simple, yaitu sarung buat shalat, botol minum, baju ganti dan kompas. Setelah perlengkapan sudah siap, saya kemudian bergegas berangkat ke lokasi, dan tujuan saya adalah pantai di arah barat daya kota tangerang, tepatnya di pantang ketapang, Mauk, kabupaten tangerang.

Perjalan yang harus di tempuh ke sana kira kira memakan waktu 1.5 jam dengan menaiki angkutan umum. Di dalam perjalanan saya berfikir sepertinya masih ada perlengkapan yang kurang mengingat untuk berlayar ikut dengan nelayan itu saya tidak bisa berenang dengan jarak yang jauh dari bibir pantai. Tidak lama saya segera mencari toko perlengkapan mancing, dan disanalah saya menemukan jaket pelampung. Singkat cerita saya sampai di lokasi. kira kira saya sampai jam 11.00 WIb.

So , masih ada waktu buat saya sampai sore untuk mencari nelayan yang akan berangkat mencari ikan ke tengah laut. Sialnya, sampai hari mau sorepun saya tidak menemukan tanda tanda nelayan yang akan pergi melaut, dikarena ketika saya datanmg kesana tepat di waktu sabtu sore disaat para nelayan libur melaut. keputusasaanpun datang menjemput,tapi hati saya seperti tidak mau terusir dari tempat tersebut. sampai akhirnya saya mencari warung kecil untuk sekedar memesan kopi. Disanalah tempat ibu marsinah ( nama samaran ) berjualan kopi dan makanan kecil.

Disana saya berbincang bincang dengan beliau, ibu Marsinah. Memang memesan kopi di tempat yang baru yang saya kunjungi merupakan adaptasi paling mujarab untuk orang pendatang baru seperti saya yang asing di tempat tersebut. Di sela sela perbincangan saya dengan ibu marsinah. Ternyata saya mendapatkan semacam sinar harapan untuk melanjutkan misi saya ikut melaut. Ternyata adik dari beliau adalah salah satu dari sekumupulan nelayan di kawasan tersebut. ( Bersambung )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Warung Ucok © 2012 | Designed by Meingames and Bubble shooter